Pengalaman Apply Kartu Kredit Dengan Mudah

Beberapa waktu lalu saya membuka tabungan di CIMB. Berawal dari bertanya ke teman dekat waktu SMA. “Bank apa yang recommended buat saya?”. Teman saya yang bekerja di salah satu bank swasta menjawab “Buka tabungan di CIMB saja kik, banyak manfaatnya dan promonya.” Jawaban tersebut mengagetkan saya, karena dia bekerja di bank kompetitor CIMB tersebut. Okelah saat itu juga saya mencoba mendaftarkan tabungan tersebut di kota saya. Proses pembuatan tabungannya cepat dan mudah, bermodalkan materai enam ribu saat itu juga mencoba sekalian apply Credit Card (Kartu Kredit). Tentunya sudah menanyakan pada Customer Service, “Apakah saya bisa langsung proses pengajuan CC tersebut?” Jawabnya, “Bisa pak silahkan di isi aplikasi formnya di lembar tersebut”.

Beberapa bulan tak kunjung mendapatkan kabar tentang kartu kredit CIMB tersebut, memasuki bulan ke-dua saya login internet banking CIMB atau biasa disebut CIMBclicks. Ternyata apply kartu kredit mudah sekali di CIMBClicks ada fitur menu untuk request apply kartu kredit dan tabungan. Saya mencoba memilih kartu kredit yang cocok untuk saya dan mengirimkan request tersebut. Alhasil selang beberapa hari kemudian di hubungi oleh telesales atau telemarketing untuk di mintai data berupa KTP dan slip gaji.

Saya memutuskan memilih Credit Card CIMB karena beberapa faktor. Selain rekomendasi dari teman yang kata-nya banyak promo, saya mencoba mencari beberapa promo tersebut. Ternyata memang banyak sekali. Tiga di antaranya yang akan sering saya pakai adalah :

  1. XXI: Free 2 tiket dengan Poin Xtra seharga 1 tiket untuk Sabtu & Minggu (CIMB Niaga)
  2. Blitz Megaplex: Free 2 tiket dengan Poin Xtra seharga 1 tiket untuk Sabtu & Minggu (CIMB Niaga)
  3. Promo Tiket Pesawat Sriwaja Diskon 5% Ke Semua Tujuan

Itu baru saja tiga dari beberapa Promo yang bisa anda dapatkan dari Kartu Kredit CIMB, selain itu masih banyak diskon dan potongan harga lainnya pada distro baju, restoran dan caffe, hotel, maupun tempat rekreasi. Informasi lengkapnya dapat anda temukan di Promo CIMB Niaga MasterCard Classic.

Selain manfaat promo, saya juga orang yang memperhitungkan tentang biaya tahunan kartu kredit (annual fee). Di CIMB Niaga MasterCard Classic tidak ada biaya tahunan seumur hidup alias free atau gratis. Berbeda dengan Credit card di bank-bank swasta maupun negeri di Indonesia, dimana biayanya variatif pada nominal 100ribu sampai juta-an rupiah.

Selain manfaat promo, benefit free annual fee, pilihan saya jatuh pada kartu kredit CIMB adalah bisa digunakan belanja online di beberapa situs market place di Indonesia. Terutama dalam pembelian cicilan 0 persen yang ada di salah satu situs belanja online terkemuka di Indonesia. Tiga faktor tersebut, yakni Promo, anual fee gratis, dan bisa digunakan belanja online adalah faktor saya untuk memantabkan hati untuk membuat kartu kredit CIMB Niaga Mastercard Classic.

Kebahagiaan linear dengan Kesuksesan

Dear Pembaca,

Beberapa tahun lalu, saya pernah menuliskan apakah sukses itu beriringan dengan uang? Sebuah tulisan dari dalam hati. Kali ini menemukan tulisan di kaskus oleh Billy Boen (semoga tidak salah menulis namanya). Pada artikelnya menjelaskan, sukses itu menciptakan kebahagiaan. Yah, betul dan sependapat dalam artikel itu. Sukses tidak selalu linear terhadap jumlah kekayaan. Berikut tulisan Billy Boen pada Hot Thread hari ini,

Sukses ngga selalu berhubungan dengan uang. Meski saya juga ngga mau sok idealis dengan bilang bahwa uang ngga penting di dunia ini. Uang penting, tapi bukan satu-satunya yang akan bisa buat kita bahagia.

Pernah ngga ngerasain ketika Agan ngebantu seorang teman, trus di dalam hati ngerasa senang. Atau ketika di jalan, ngebantu orang lain yang Agan ngga kenal, sekecil apapun itu, trus dalam hati Agan merasa senang? Pasti pernah dong ya?

Nah itu bukti bahwa untuk bisa menciptakan kebahagiaan, bukan berarti Agan harus tajir melintir (kaya raya). Kita sendiri lah yang bisa membuat diri kita ngerasa hepi atau ngga. Dan seperti yang saya bilang tadi, dari hal-hal kecil..

Saya sering bilang bahwa menyumbang itu ngga perlu selalu harus dalam bentuk uang. Menyumbang itu bisa dalam bentuk barang, ide, tenaga, waktu, dan darah.

Semua ini (kecuali uang dan barang), tidak bisa dihitung secara materalistis. Tapi, sifatnya lebih penting daripada yang bisa dihitung dengan uang.

Jangan ngaku sebagai anak muda Indonesia yang akan sukses, kalau menolong sesama aja ngga mau. Saya percaya, semakin banyak orang yang kita tolong, semakin banyak pula balasan positif yang akan kita terima di dalam hidup ini.

See you ON TOP!

Nah, masih mikir bahagia atau sukses itu linear terhadap uang? Coba baca lagi.

Aku dan Akta IV ku

Lama sekali ndak nulis, nulis sekali ndak lama. hehe Sedikit singkat saja untuk memberitahukan kabar, bahwasanya pagerank saya jadi ndok (nol), maka dari itu perlu update rutin lagi untuk kembali bisa menempati posisi page rank 3 #manamungkin. Masalah rank itu terserah lah, saat ini sedang konsentrasi pembuatan laporan PPL Akta IV.

Ketika bertemu banyak orang, pasti menanyakan, “Ngopo jupuk akta iv, Opo isih kanggo akta 4 kuwi (Mengapa ambil akta iv, apakah masih bisa dipakai akta 4 itu?). Jawab saya, “(Senyum) Opo salahe nyobo? Masalah kanggo opo ora, pikir keri, sing penting pengalamane” (Apa salahnya mencoba? Masalah masih dipakai atau nggak, pikir belakangan, yang penting pengalamannya).

Lontaran pertanyaan lanjutan pasti muncul “Si A kae wae ra ndue akta IV iso ngajar dadi guru BK.” Jawabku “Yo ben, itu lak dia, aku cobo manut aturan (Biarin, itu kan dia, aku mencoba menaati aturan(aturan menjadi pendidik memerlukan akta iv,Red))”

Heran deh mengenai teman, kawan, sodara, atau orang lain yang turut ikut campur masalah pribadi. Mau kerja kek, mau sekolah kek, itu kan hak ku, selama aku mau dan bisa, why not? Yah, memang saya mengambil program akta IV di FKIP Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, ini untuk menjadi guru BK. Ya, dulu saya bukan dari FKIP, saya lulus dari Fakultas Psikologi. Lha apa nanti hubungannya Akta IV, guru BK, dan Psikologi? Nah oke, hubungannya dalam guru BK yang notabene menangani masalah manusia, maka dari itu ilmu yang saya peroleh bisa di terapkan dalam kondisi tersebut. Tapi dalam hal segi mengajar(pedagogik), sedikit sekali yang saya dapatkan di kuliah dulu, paling dulu cuma Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah mata kuliah yang diwajibkan. Oleh karena itu agar sekali dayung, saya ambil program ini untuk melengkapi ilmu yang dibutuhkan.

So, mau protes lagi? Males dah ! Langsung baca saja blog saya, kenapa saya ambil Akta IV ini!!!

Sarjana Masbuk Itu…?

Sore tadi, sepulang dari kuliah, eh kuliah apa kerja ya… Entahlah, waktu menunjukkan pukul 15.30 lebih, ada acara rame rame didepan kantor,, alah kantor… Depan basecampku selama ini. Owh ternyata ada event, entah itu seminar, bedah buku atau apalah yang diadakan salah satu UKM yang baru bangun dari tidur panjangnya.xixi…. Judulnya cukup menarik, SARJANA MASBUK.

Ku coba mulai iseng mendaftar, sst… kupikir akan dapat buku, owh ternyata cuma mendapatkan selarik kertas, yang kurang lebih isinya “LOGOTERAPI”. Apa itu? Aku juga ga tau, makanya mau tahu ikut acaranya ini… Secarik kertas itu membawa ku kepada sebuah pandangan bahwa dengan menulis akan mengurangi penyakit-penyakit psikologis. *Ya menurutku jelas lah, Continue reading “Sarjana Masbuk Itu…?”

Mengajarlah dengan Hati

Pada suatu kelas dengan suasana yang tak kondusif, malah terkesan seperti kondisi pasar pada pagi hari. Itulah yang tersurat ketika presentasi seorang teman ku sedang mempresentasikan makalahnya. Ironis ketika temanku itu sedang mempresentasikan metode mengajar edukatif yang interaktif, namun suasana interaktif tak tertuang dalam ruangan tersebut. Hanyalah interaktif antar bangku yang terjadi, bukan antara dosen dengan mahasiswa yang berada dalam ruangan tersebut.

Dosen itu pun nampak sabar sekali melihat sekerumunannya mengoceh, dihampirilah perlahan, dan duduk tepat di depanku. Aku pun sama seperti yang lain, terkadang pindah ke kursi belakang untuk mengobrolkan tugas yang akan datang. Dengan sabar beliau, memperhatikan presentasi temanku itu. Nampaknya hanya 10persen saja yang mendengarkan presenter itu. Entah kurang menarik penyajiannya, atau memang sama sekali tidak paham materi yang diberikan. Dan selesailah presentasi itu kurang lebih  15 menit. Dosen yang sudah udzur itu pun berjalan pelan ke depan dan duduk sambil menerangkan.

Aku pun mulai tertarik untuk mendengarkan, banyak pengalaman yang beliau dapati. Berbagi cerita sehingga ku tertarik menanyakan suatu hal yang kadang itu sering saya jumpai. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya ketika tiba kesempatan untuk bertanya. “Bu, bagaimana langkah untuk menangani ketika kita menerapkan pola belajar edukatif interaktif, namun ada satu anak yang tidak mau diajak untuk berinteraktif?”. Beliau menjawab dengan singkat, “Mengajar pakailah hati,nak.” Deggg… Penuh tanda tanya… Beliau pun menceritakan beberapa pengalamannya. Hingga kini, masih menjadi pertanyaan, Bagaimana mengajar dengan Hati?