Antara Aku dan Mamaku

Jujur aku bingung mau cerita tentang mama dari mana ? Sebelumnya mari ucapkan terlebih dahulu Innalillahi wa inna’ilaihi roji’un atas meninggalnya ibunda ku yang sering ku sebut mamah. Semoga khusnul khotimah yah… Baiklah, mungkin ada baiknya aku cerita dari hari dimana aku kembali ke Boyolali.

Entah ada perasaan apa, rasanya ingin pulang ke rumah, hari itu masih hari Rabu, dimana biasanya pulang dari Jogja hari kamis sore. Oh iya, hari itu aku merencanakan akan membayar SPP kuliah di hari kamis. Entah apa dipikiranku, sore itu hati berkata, pulanglah bawa makanan. Hal itu sangat jarang sekali kulakukan selama di Jogja. Baiklah aku bungkus 5 nasi gudeg telur tempe yang biasa ku beli akhir-akhir itu di dekat kantor. Oh iya, pas pulang itu aku ngabari dulu teman kost, kalau ada paket datang apa tidak? Lama tidak dibalas, aku samperin ke JNE, eh pas sampai JNE ternyata dah di antar di kost. Buka whatsapp ternyata mas kos udah membalas kalau paket udah sampai kost, hadeh. Putar balik sekencang-kencangnya ke kost, saat itu gerimis dan aku berdoa jangan sampai hujan sebelum sampai dirumah. Sesampai di kost, ketemu bu kos dan ijin mengambil paket dan langsung ngeloyor pulang tergesa-gesa. Tak tahu apa, ingin rasanya segera ke rumah. Dijalan ku lihat masih jam 8, entah setengah gila atau gak sadar, aku terobos jalan one-way di Klaten, di teriaki orang woy searah woy ! Ah, persetan, yang penting cepat sampe rumah. Setelah sampai rumah, ada dek vino yang sudah tidur, dan mama yang tumben, jam 8.30pm belum tidur. Ku buka deh nasi gudeg nya, makan bareng sama mama (gak ngerasa kalau itu aku terakhir kali maem bareng mama) :(, seperti biasanya mama pun ngobrol sambil makan di depan TV. Dan memberikan ku telur di gudeg tersebut, karena mama katanya ndak makan telur. Dan papah datang dari dines lalu ku tawari gudeg juga. Hari berjalan seperti biasa, dan sebelum tidur aku berpesan pada mama. “Mah, aku bangunin pagi, mau bayar SPP besok.” dan mama pun menjawab “Iya, bayar berapa dek?”. “Ndak tahu, satu juta atau berapa, nanti aku aja yang bayar, mah!” (yaaaaa… ini menjadi resiko ku yang study di luar masa kewajibanku alias molor)

Kamis Pagi 12 Februari 2015. Bangunlah pagi dan berangkat ke Solo untuk membayar SPP, entah disitu aku selalu bengong, kayak kosong, was-was dan segala macam teradu di dalam situ. Singkatnya aku ambil uang di ATM Bank Mandiri POM Bensin Teras, sial, disitu ternyata lagi maintenance. Dan aku akhirnya ngambil ke ATM Assalam. Perasaan was-was masih saja menaungi pikiran. Singkat cerita aku tiba di pembayaran Bank Jateng Syariah Solo sama teman kampus seangkatan yang mau membayar SPP juga. Disitulah mulai apes ku yang kesekian kali, uang yang ku berikan yang NYATA pas 500ribu, sampai di teller jadi 400ribu. Oh Tuhan, cobaan apa ini? Baiklah daripada ribut di sana, mending saya tambahin 100. dan hari kamis itu berlangsung biasa-biasa saja. Oh iya, mama menanyakan “Bayar berapa?”. Aku jawab “500 mah, tapi besok kalau wisuda 1juta sekian berapa ya lupa, satu setengah kayaknya”

Jumat 13 Februari 2015. Seharian di rumah (kerja) tidak banyak hal yang di luar kebiasaanku. Oh iya satu hal, tempat kerjaku menyuruhku untuk mengirimkan status PPKP (apalah lupa tentang pajak pokoknya) sekitar jam 15an, di kumpulkan hari itu juga. Pikirku, nanti setelah jam off kerja aku buatkan scan di warnet dulu. Oke jam 17 keluar untuk mengambil banner di rumah temanku. Handphone berdering beberapa kali aku pun tidak tau, setelah aku check ternyata kantor Jakarta. “Duh, belum ngumpulin, mungkin udah ditunggu2″ Lalu pulang setelah pulang umi negur, “Dek, ada yang telpon dari jakarta, mama gak berani nerima yang nerima dek vino, mama takut” (kurang lebih gitu kalau di translate di bahasa Indonesia). Langsung aku buat saat itu juga maghrib sholat selesai langsung lari warnet, dan ku kirim. Seperti biasanya hari jumat malam aku latian futsal dan tumben aku biasanya nongkrong sampe pagi, hari itu langsung pulang. Seterusnya di rumah ndak bisa tidur sampai jam pagi (gak inget) terakhir inget pas bilang ke mama waktu nglilir ke kamar mandi “Besok aku kuliah, bangunin pagi ya”

Sabtu, 14 Februari 2015. Hari valentine kali ini bukan untuk berkasih sayang dengan mama, melainkan harus menemui kepala progdi untuk di monitoring kuliahnya, dan di berikan materai untuk menyelesaikan studi. Apes nambah lagi jadi mahasiswa bermaterai ! Oke lah ndak masalah menurutku, orang niatnya baik. Setelah itu pulang. Di rumah, tak seperti biasanya, mama sudah menunggu di pintu rumah. Sedikit menghadang sambil menanyakan, “Kapan wisudamu dek?”. Aku jawab dengan agak menyentak karena emosi (nyesel deh), “Ya gak tau to mah, tesis aja belum aku kerjakan”, Mama menjawab pelan “Ya jangan marah sama mamah to dek, mamah kan cuma menyampaikan pertanyaan dari papahmu”. dan aku terdiam :( Continue reading Antara Aku dan Mamaku


lazada.com

Cara mengubah Jaringan 3G di Tablet Lenovo a3300 GV

Lenovo. Merk pabrikan china yang sukses beredar di pasar china dan merambah ke Indonesia ini seperti jamur di musim hujan. Beberapa masyarakat Indonesia yang berjargon “Cinailah produk Indonesia”, pasti akan melirik sebuah merk lenovo. Termasuk saya, yang nekat membeli tablet phone Lenovo A 3300 GV. Harga yang di bawah standarĀ  membuat saya tertarik membeli ini, padahal banyak review negatif mengenai tablet ini. Terutama pada penerimaan signal yang sampai mentok di 2G. Hwaaaaaa….. Hari gini 2G? Tunggu dulu ulasan saya, siapa tahu Lenovo A 3300 GV ini bisa dijadiin jaringan 3G ?

Kenapa saya tetap membelinya yah? Karena faktor pertama memanfaatkan wifi bolt yang sudah kubeli, dengan susah payah unlock modem bolt slim tersebut. Kedua karena memang penggunaan hanya sebatas untuk ngegame COC, Hayday maupun game kecil lainnya. Faktor kedua karena murah hihihi. Faktor selanjutnya karena mungkin terlalu lama menunggu mipad release di Indonesia, jadi kupikir sementara aku pakai lenovo ini dulu. Tak apa toh mungkin nanti bisa di jadikan signal 3G menurutku.

lenovo a3300gv. photo by gsmarena

Continue reading Cara mengubah Jaringan 3G di Tablet Lenovo a3300 GV


lazada.com