Kampoeng Air – Wisata Anyar di Boyolali

This item was filled under [ Pribadi, Tulisanku ]

BOYOLALI. Nama yang jarang muncul di televisi meskipun memiliki bandara international yakni Bandara Adi Soemarmo, kerap tak di akui di wilayah Boyolali. Padahal jelas tertanda Adi Soemarmo berada di wilayah Boyolali, meskipun di paling ujung berbatasan dengan kota lain. Meski kerap lokasi bandara ini dibuat wisata dadakan, karena pesona nya yang cantik kini telah hadir wisata cantik lainnya yang ada di wilayah BOYOLALI. Kampoeng Air, itulah tempat rekreasi anyar tersebut.

Kemarin lusa selepas kondangan di Sambi, saya dan beberapa teman iseng ke tempat wisata yang belum di launching itu. Yah kali ini ngreyen terlebih dahulu sebelum launching. Setiba disana awal bidikanku mengarah ke landscape di atas jembatan wisata tersebut, sayang sekali masih belum terlihat detail wisatanya.

kampoeng air

Saya mencoba poto2 dulu di depan prasasti (hahaha) bertuliskan kampoeng air. Dan disambut baik oleh bapak separuh baya, kurang tahu siapa beliau seperti nya penduduk sekitar. Awalnya menjelaskan beberapa ulasan, namun saya masih asyik foto-foto.

Beberapa teman saya sudah tersebar di wilayah wisata tersebut. Ada yang sudah sampai di tengah-tengah lokasi wisata ada yang masih di pintu masuk. Sembari berpikir mana yang mau di jadikan objek kamera, tak sengaja kamera ini membidik fullview halaman dalam wisata tersebut.

Karena saya masih penasaran coba deh masuk ke tempat wisata, langsung kamera mengarah pada bidikan ke salah satu bangunan yang katanya mirip dengan bangunan rumah di Harry Potter.

Lalu terakhir masuk ke lokasi wisata kolamnya… taaaaraaaaa….

Setelah poto tersebut kebetulan bertemu dengan ownernya kampoeng air, karena lagi pas ga mood tanya-tanya, yah tanya ala kadarnya aja, seperti rencana launching dan biaya Harga Tiket Masuk (HTM). “Rencana akan resmi di launching besok sabtu tanggal 22 Maret 2014, dan harga tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah. ” Ungkap ibu yang baru ku kenal tadi dengan ramah.

Bagaimana? Bagus nggak? Kalau saya boleh menilai ya sebenarnya biasa aja sih, tetapi berhubung ini di Boyolali, jarang ada wisata di Boyolali, maka saya menilai ini LUAR BIASA. Semoga lokasi wisata ini kedepannya semakin bagus, masih banyak lahan kosong di sekitar semoga dapat di manfaatkan untuk tempat wisata.

Oh ya, sebenarnya ada sih sisi lain dari wisata ini, sebrang jalan juga jadi tempat wisata lho, jadi di bawah jembatan itu ada jalan penghubung lagi untuk mencapai ke sebrang. Tapi sayang sekali saya tidak sempat mengabadikannya karena hujan deras datang tiba-tiba.

Kebahagiaan linear dengan Kesuksesan

This item was filled under [ Edukasi, Pribadi ]

Dear Pembaca,

Beberapa tahun lalu, saya pernah menuliskan apakah sukses itu beriringan dengan uang? Sebuah tulisan dari dalam hati. Kali ini menemukan tulisan di kaskus oleh Billy Boen (semoga tidak salah menulis namanya). Pada artikelnya menjelaskan, sukses itu menciptakan kebahagiaan. Yah, betul dan sependapat dalam artikel itu. Sukses tidak selalu linear terhadap jumlah kekayaan. Berikut tulisan Billy Boen pada Hot Thread hari ini,

Sukses ngga selalu berhubungan dengan uang. Meski saya juga ngga mau sok idealis dengan bilang bahwa uang ngga penting di dunia ini. Uang penting, tapi bukan satu-satunya yang akan bisa buat kita bahagia.

Pernah ngga ngerasain ketika Agan ngebantu seorang teman, trus di dalam hati ngerasa senang. Atau ketika di jalan, ngebantu orang lain yang Agan ngga kenal, sekecil apapun itu, trus dalam hati Agan merasa senang? Pasti pernah dong ya?

Nah itu bukti bahwa untuk bisa menciptakan kebahagiaan, bukan berarti Agan harus tajir melintir (kaya raya). Kita sendiri lah yang bisa membuat diri kita ngerasa hepi atau ngga. Dan seperti yang saya bilang tadi, dari hal-hal kecil..

Saya sering bilang bahwa menyumbang itu ngga perlu selalu harus dalam bentuk uang. Menyumbang itu bisa dalam bentuk barang, ide, tenaga, waktu, dan darah.

Semua ini (kecuali uang dan barang), tidak bisa dihitung secara materalistis. Tapi, sifatnya lebih penting daripada yang bisa dihitung dengan uang.

Jangan ngaku sebagai anak muda Indonesia yang akan sukses, kalau menolong sesama aja ngga mau. Saya percaya, semakin banyak orang yang kita tolong, semakin banyak pula balasan positif yang akan kita terima di dalam hidup ini.

See you ON TOP!

Nah, masih mikir bahagia atau sukses itu linear terhadap uang? Coba baca lagi.

Aku dan Lampu Motor

This item was filled under [ Motivasi, Pribadi ]

Lagi dan lagi, momok polisi tukang tilang selalu menghantui di perjalanan Boyolali – Yogya, tepatnya di KLATEN. Senin 3 Februari 2014, saat perjalanan berangkat kerja di kagetkan oleh operasi kendaraan bermotor di salah satu ruas jalan yogya – klaten. Hampir setiap hari saya lewat pasti ada operasi atau istilah kerennya mokmen. Entah itu perjalanan berangkat maupun perjalanan pulang. Ini kedua kalinya lupa menyalakan lampu motor. Memang saya tahu peraturan tersebut, bunyinya kurang lebih seperti ini.

*Pasal 107 *
(1) Pengemudi Kendaraan Bermotor wajib menyalakan lampu utama Kendaraan Bermotor yang digunakan di Jalan pada malam hari dan pada kondisi tertentu.

(2) Pengemudi Sepeda Motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksudpada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

Ya, memang saya lupa menyalakan, dan baru saja menyalakan di Tempat Kejadian Perkara, alhasil di tilang. Oke, seperti biasa, karena tergesa-gesa tak ada waktu, saya tidak mau basa-basi dengan polkis yang rese’ dan sok jago itu. :D “Pak, ini ditilang saja, tapi jumat saya ga bisa, nanti biar di urus bapak, saya buru-buru berangkat kerja. ” Ucapku. Jawab Polisinya, “Emang bapakmu siapa?”. Sambil menunjukkan nama di STNK berucap, “Ya itu pak dibaca.”. Polkis itu menyahut “Lha emang siapa?” . Batin saya (ini orang kepo banget sih) hihihihi. Oke lah singkat cerita saya ditilang, dan surat-surat di masukkan ke POS Polisi.¬† Menunggu di luar karena antrian nya ramai, saya ingat baca di kaskus dengan threat nyeleneh “Nyaris ditempeleng gara2 ngrekam razia” ide tersebut menginspirasi untuk mengambil dan mengabadikan sebuah poto jalanan seperti ini :IMG00174-20140203-0939

Lalu pindah posisi menunggu di luar POS sambil membawa gadget dan update status serta display picture. Mungkin pas megang handphone ini ketahuan dikiranya motret lalu ada yang memanggil dengan lantang¬† dari belakang “Woy le”. Saya tahu, yang dipanggil pasti itu saya, tetapi sengaja gak menggubrisnya dan berpura-pura melihat di dalam pos itu sambil ngantri sampai sepi. Lalu polkis yang tadi menepuk badan saya dari belakang seraya berucap “Woy le rene!” Dan ku ikuti langkah polkis ke kerumunan sekitar 8 polkis disana. Disana di interogasi, “Le, kamu moto ya? Kamu tahu tidak tidak boleh mengambil poto saat operasi, bisa di tuntut kamu!” Dan aku menjawab, “Tadi saya disitu (sambil menunjuk POS) nggak moto”. Coba buka hapemu di gallery, saking gemeternya tangan sampe kepencet Opera Mini. Pak Polkis itu membentak “Kuwi lak opera mini”. Aku menjawab “Sebentar pak, salah pencet, sambil memberikan hape yang sudah di siapkan di gallery.” Sambil merebut doi menggertak “Lha iki poto ngomong ora moto”. Langsung aku jawab “Lha kan aku nggak moto polisi pak, coba liat tu polisinya jauh, ga keliatan itu siapa.” Polisi lain membalas jawabanku, “Kamu wartawan bukan?”. Hampir saja saya keceplosan menjawab, ya memang saya wartawan, tapi pertanyaan interogasi seperti orang lagi KEPO, kalau kamu wartawan kamu harus ijin dulu. Setelah itu saya ambil hape saya dan disuruh ke POS.

Sesampai di POS, ada polkis yang pangkatnya Aiptu memanggil, “Rizky Yuwana”, “Siap pak”, jawabku. Sambil membaca STNK Polkis itu bilang “Ini kalau mau nitip juga bisa”, dengan keras saya jawab “Tidak pak, tilang saja.” Memang saya tidak mau nitip2 semacam itu, mending saya ditilang. Terus polisi yang nilang saya tadi tanya “Plat nomor mu piro?” aku jawab dan di suruh keluar dari POS. Di luar pos saya digiring ke POLKIS menuju ke arah seorang polkis lain. Badannya gemuk, agak pendek, pangkat perwira di bet nama tertera “AL*G”. Perkenalan yang sangat sombong menurutku, doi berucap “Disetiap operasi pasti ada petugas perwira sebagai ketua operasi, saya lah ketuanya”. Nah disitulah saya di interogasi, kamu anak polisi? Makan beras Polisi? (disini sempet ingin ketawa, mana ada beras polisi, adanya berasnya pak petani wkwkwkwkwk). Tanya ini itu, termasuk pangkat bapak saya. Di ending pun ucapannya sombong betul, salam ya buat bapak kamu dari saya “IPTU AL*G” sambil menujuk bet namanya. Suwun pak, ucapku sambil ngacir pergi pengen ketawa ngakak.

Nah dari cerita tersebut, saya mencari-cari info tentang peraturan pelarangan merekam di TKP operasi, malahan ketemu video yang serupa

Tertib berkendara guys ! Jadikan cerita ini pengalaman buat saya pribadi dan kalian semua !!!