Babymoon di Pakem Valley Kaliurang

Hehehe… harusnya saya menulis cerita ini bulan kemarin ya, melanjutkan cerita babymoon part II . Tapi baru sempat menuliskan sekarang di awal bulan November rain ini. Sebenarnya saya lupa menceritakan babymoon part I, tetapi sudah muncul babymoon Part II. hahaha. Baby moon part satu ya masih di sekitar tugu jogja, di hotel arjuna. Tak banyak cerita disana karena memang hanya 5km-an saja dari kontrakan. Cuma sempet ketemu blogger spammer Teguh Aditya di Rene Hotel tak jauh dari hotel saya menginap.

Nah, babymoon kedua ini saya rencanakan di Kaliurang. Kami berdua (sama istri) belum pernah kesana sebelumnya. Kamu tahu lah di cerita sebelumnya, yang sempat miss komunikasi antara zenrooms, pihak hotel dan kami. Pemesanan kami tidak masuk dalam database zenrooms, sehingga saya tidak terdaftar di Pakem valley, tujuan pertama menginap disana. Setelah berdiskusi, kami dipindahakan ke Bale-Bale kurang lebih 500 meter dari Pakem Valley. Ya meski tidak sesuai ekspetasi, not bad lah tidur di resort di kaki gunung merapi. Resortnya baru, masih bersih, asri, kamar luas, ya meskipun breakfastnya biasa saja :D. Tapi hari kedua kami segera move-on ke Pakem Valley. Sebelum ke pakem Valley, kami turun ke Jakal km 9 untuk mencari target makan siang berupa nasi gandul, makanan khas tanah kelahiran PATI BUMI MINA TANI. Setelah kenyang, saya meluncur ke pakem valley.

Kedatangan kami di sambut hangat oleh pihak owner pakem valley. Ya model kali ini bukan resort maupun hotel, tetapi villa. Setelah melakukan check in, kami jalan-jalan menuju Gunung Merapi. Tapi sayang karena hujan rintik-rintik, hanya bisa ke lokasi museum gunung merapi saja.

museumgunungmerapi

Setelah puas melihat museum, dan film teaternya, kami bergegas pulang ke villa, namun sayang sekali hujan, kami harus berteduh dahulu sebelum kembali ke villa.

Oiya sesampainya kembali di villa, melihat isi berbagai kamar. Ada lemari, meja, kursi, tv, dan AC. Melirik ke kamar mandi, wow sangat tergiur dengan bathtub nya. Bagi saya sih udah pernah mandi dengan bathtub, tapi karena istri saya belum pernah, dan pernah memimpikan ada bathtub ketika tidur di hotel singapore kemarin, akhirnya kesampaian. hahahaha. Ini nih penampakan room di villa Pakem Valley km 20 kaliurang.

pakemvalley pakemvalleyroom

Malamnya karena hujan tak berhenti, saya dikasih (baca : dikasihani) sama owner Pakem Valley sepiring dinner khas pakem valley. Alhamdulillah jadi tidak perlu turun gunung untuk mencari makanan. Terima kasih sekali ce shelly dan koh stepen. :D

Karena sudah terlalu capek keliling museum, malamnya pun terlelap sampai pagi. Dan pagi-pagi sudah rintik-rintik turun hujan. Istriku yang sudah mandi duluan terpaksa harus mandi lagi, demi nyobain bathtub. Waktu dia mandi duluan saya masih tertidur dan doi gak bisa caranya mandi di bathtub =)) . Akhirnya setelah berdua selesai mandi, turun ke bawah untuk sarapan. Sarapannya apa ya? Kalau gak salah namanya ayam lada hitam kali ya, saya juga nggak tahu. Porsi makan yang di berikan juga cukup, meski bukan prasmanan. Selesai sesi sarapan bergegas check-out karena harus segera merapat di kantor :D

Akhir bulan oktober kemarin menyempatkan bermalam di hotel bintang 5 di Solo. Gimana ceritanya? Simak tulisan yang akan datang entah kapan mau nulisnya :D

BabyMoon Part II

Setelah berhasil di Babymoon part I kemarin, saya langsung merencanakan babymoon part II. Moment ini tidak akan saya sia-siakan, karena mungkin setelah istri melahirkan, tenaga dan pikiran pasti akan tertuju kepada anak, tanpa memikirkan berbagai liburan. Ya sih, sudah di rencanakan tahun depan untuk liburan Honeymoon part II. Pertama yang kulakukan adalah menentukan destinasi. Pilihan yang tepat memang tak jauh dari Yogyakarta. Keputusan jatuh pada Kaliurang, Sleman Yogyakarta.

Berawal dari hunting hotel yang ada di Kaliurang, akhirnya menemukan pilihan hati di vila di jalan kaliurang km 20. Karena rencananya satu hari itu terlalu singkat, maka saya kembali memesan hotel untuk hari kedua di villa yang sama. Kami memutuskan liburan di awal bulan yakni tanggal 1-2 Oktober agar tidak terganggu kondisi keuangan.

Singkat cerita, saya dan istri berangkat dari Cepogo, Boyolali. Sebenarnya Cepogo juga lereng gunung merapi-merbabu, dan Kaliurang adalah lereng merapi. Kami memutuskan berangkat setelah sholat ashar, karena menunggu hujan yang tak kunjung reda.Tapi kami nekat berangkat menempuh jalur utama melewati Boyolali-Klaten-Sleman-Kaliurang agar terhindar dari jalan yang tak di ketahui kondisinya, maklum istri sedang hamil, jadi harus lebih ekstra waspada. Selama perjalanan di temani hujan rintik dan kadang deras. Kalau deras terpaksa harus berhenti menepi, karena alasan membawa barang elektronik seperti HP, laptop dll. Hujan mulai reda ketika memasuki jalan Kaliurang. Ini pertama kali saya menyusuri Jalan Kaliurang di atas km 10. Karena dulu waktu merapi meletus saya sempat kopdar dengan teman di jakal km 10.

Di perjalanan tersebut, saya melirik sebuah cafe. Cafe yang unik, memakai lilin dan bernuansa remang bercahayakan lilin ala Candle light Dinner. Ehm romantis sekali, pikir saya. Tapi setelah melewati cafe tersebut saya baru sadar, ternyata di sekitar jalan tersebut mati lampu. Oh berarti cafe tersebut tidak memiliki genset. Dan beberapa seperti toko yang menjamur di Indonesia itu bercahaya terang benderang layaknya toko yang masih hidup, dan yang lain adalah seperti toko yang tutup. Ya karena toko mainstream tersebut memiliki mesin genset sendiri. Namun kondisi malam itu gelap sekali karena sekeliling mayoritas tidak memiliki genset, sampai villa yang di tuju kami coba langsung menyelonong masuk. Dan di berhentikan oleh petugas dan menanyakan apakah sudah memesan disini? Dan ternyata pesanan online saya tidak terekam oleh pihak villa, yang tercatat untuk hari besok. Ya salam ! Bagaimana ? Sudah basah kuyup tapi tidak dapat tempat? Istri banyak mengomel, karena saya tahu pasti kecewa, dan capek sekali selama perjalanan. Tapi itu bukan menyelesaikan masalah. Masalah itu harus di hadapi jangan lari dari masalah. Saya coba telpon konfirmasi dari pihak pemesanan online. Setelah berdiskusi antara saya, pihak villa dan pihak pemesanan hotel kami mendapatkan solusi di pindahkan ke hotel sekitarnya. Alhamdulillah, meskipun nuansa bukan villa, atleast hotel yang semalamnya 450ribu dapat melegakan hati ini. Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu ya di postingan berikutnya :)

Belanja Online Untuk Isi Perabotan Rumah Baru

Melanjutkan postinganku yang terdahulu, saya belum cerita tentang tempat tinggal baru di Jogja saat ini. Pindah ke Jogja adalah cita-cita masa depan, namun sayang, cita-cita tersebut jauh dari angan karena berbagai faktor. Dan semua seperti berubah 360 derajat, cita-cita yang tak ku persiapkan dengan baik terwujud mendadak dalam satu bulan itu, ya bulan Juli 2016, nah inget kan bulan lalu tidak ada postingan di dekrizky.com karena saya sibuk mencari rumah. Karena mendadak dan tanpa persiapan, maka misi pencarian pun ala kadarnya. Tidak muluk-muluk beli rumah, karena tak ada persiapan pun dan tidak mau sistim KPR atau pun sistem kredit seperti orang pada umumnya. Cukup mengontrak saja dahulu, syukur – syukur dapat terwujud membeli rumah di Jogja.  Misi pencarian pun di mulai pada awal bulan Juli. Berawal searching di internet tentang kontrakan rumah di bantul. Banyak berbagai pilihan, namun sayang hampir semuanya sudah sold out atau sudah ada yang menempati.

Kenapa harus di Bantul? Banyak pertanyaan seperti itu muncul, ya Bantul adalah kota terdekat Jogja, tempat dimana saya mengadu nasib. Di Bantul tentunya masih murah meriah harga sewa rumahnya, jadi masih terjangkau untuk lalu-lintas keuangan keluarga kecil saya. Singkat cerita, sudah deal satu rumah kecil, berukuran kurang lebih 20 meter persegi. Kecil banget? Tak mengapa, toh cuma ada saya dan istri saya, dan calon junior saya yang masih di perut. Rumah yang baru jadi ini masih kosong. Perkakas, perabot rumah dan hiasan juga tidak menyiapkannya sejak awal.

Karena butuh perabotan rumah tangga, alat masak dan lain-lain. Saya mengusulkan ke istri untuk belanja online saja, karena belanja online bisa di bayar dengan kartu kredit dengan bunga nol persen :D (Woy riz, katanya nggak mau sistem cicilan? ) Ya, dalam kasus ini saya punya pengecualian, karena tanpa bunga, dan tidak riba. Dan ada batasan yang harus ku keluarkan yang di namakan limit. Jadi saya pribadi bisa mengontrol sesuai batasan kemampuan saya, toh jatuh tempo limit juga pertengahan bulan, jadi bisa di bayar awal bulan depan. Selain belanja online itu mudah, belanja online juga banyak diskon, dan belanja online itu terpercaya.

Belanja online Indonesia sudah pasti blibli.com tempat pertama mencari tujuan beli peralatan dan perabotan rumah tangga. Karena selain mendapatkan reward, banyak berbagai keuntungan lainnya, seperti harga termurah, mendapatkan diskon dan barang cepat terkirim. Beberapa perabotan ku beli, seperti meja laptop untuk kerja saat di jam luar kantor, penjernih air, antena televisi indoor, dan masih banyak yang lain. Sampai kebutuhan rumah tangga seperti sabun molto dan sabun sunlight saya beli di belanja online termurah blibli.com, dan untungnya semua itu free ongkir, jadi hanya di kenakan harga produk, tanpa minimal pembelian.

Beberapa barang yang saya beli di kirim dengan berbagai kurir, ada yang JNE dan first logistic. Karena produk seperti sabun, minyak goreng, rinso dan molto adalah bahan cair, maka JNE tidak bisa mengirim produk tersebut, dan blibli kerjasama dengan first logistic. First Logistic di Jogja keren banget, pas barang sudah sampai di Jogja langsung di antar hari itu juga. Berbeda pengalaman first logistic saat di kirim ke Boyolali. Bisa sampai 1-2 minggu baru sampai. Oh ya dulu peralatan seserahan juga belinya dari belanja online semua. Mulai dari sepatu, make up wardah, tas, baju, ya pokoknya hampir semua yang bisa di beli di online, mending beli di Online.

Nah kurang lebih itu pengalaman yang dapat ku tulis dari episode pindah rumah dan belanja online Indonesia saya bulan Juli lalu. Sudah dulu nulisnya, mau tidur, habis ronda semaleman tadi, dan besok mulai mengadu nasib lagi di Jogja. Semangat, Riz ! Semoga lelahmu ini di berkahi Allah SWT, dan cita-cita mu punya rumah di Bantul terkabul. Amin !

Setelah Honeymoon Mari Rayakan Babymoon

Alhamdulillah honeymoon berkeliling di Singapore selama 4 hari bersama istri yang sudah di jadwalkan setahun sebelum menikah terlaksana dengan lancar dan bahagia. Ketika itu persiapan honeymoon hanya modal nekat, cari tiket termurah di Traveloka sampai menanyakan kepada teman yang punya agen travel dan tiket pesawat. Alhasil dengan budget terbatas pun dapat menikmati indahnya Singapore. Setelah menikah dan menikmati indahnya Honeymoon, saya terbesit untuk apa yang dinamakan “Babymoon“. Ya, babymoon adalah istilah dimana menikmati hari-hari bersama istri saat hamil di luar kebiasaan sehari-hari, misal piknik ke luar negeri, pikirku.

Pilihan pergi ke luar negeri karena memang hanya mampunya jalan-jalan ke luar negeri. Karena cost nya yang tidak terlalu besar, bayangkan misalkan pergi ke Raja Ampat, setelah dicari tiketnya di Traveloka sekitar 5 juta maybe, sekali pergi tanpa pulang. Bisa di bayangkan berapa cost total pulang pergi dan biaya hidup disana? Setelah sepakat menentukan ke luar negeri, ada beberapa pilihan antara Thailand dan Malaysia.

Kenapa hanya dua pilihan? Ya karena mampunya hanya dua itu, dan yang sering di kunjungi wisatawan kedua negara tersebut. Tapi saya pribadi memilih pergi ke Thailand, karena memang sudah pernah berlibur di Malaysia, namun kasihan juga sang istri belum pernah ke Malaysia. Dan mungkin lebih hemat kalau jadi pergi ke Malaysia, maka sepakatlah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Melalui pencarian harga tiket pesawat dan hotel di Traveloka pun akhirnya sudah mendapatkan kesepakatan bahwa tanggal 9 September 2016 berangkat dan pulang sebelum lebaran haji. Tapi sayang, di bulan Juli semua rencana hancur seketika. Ada seseorang significant person yang tidak mendukung karena ke-egois-an nya. Dana yang mulanya dikumpulkan untuk babymoon pun lenyap. Ya, kini dana tersebut digunakan untuk mengkontrak rumah kecil di pelosok Yogya, tepatnya di Bantul.

Mungkin harus di re-arrange atau di reschedule lagi jadwal Babymoon. Ada beberapa pilihan yang tersedia, di mulai dari ajakan sahabat untuk Babymoon di sekitar Yogyakarta, ada kesempatan traveling ke Bali karena menemukan harga tiket yang murah. Tapi bagaimana dengan biaya hidup dan hotel tempat menginap? Setelah mencari biaya hotel di Bali, saya menemukan banyak pilihan hotel disana. Kamu bisa melihat berbagai rekomendasi budget hotel di bali dengan mengklik tombol click here . Ada juga penawaran dari agen travel untuk pergi ke Karimun Jawa. Tapi kalau Babymoon hanya pergi berdua sepertinya kurang mengasyikkan. Mungkin pilihan Babymoon bersama sahabat menjadi pilihan nantinya, kebetulan sahabat tersebut juga sedang hamil, dan suaminya juga teman sekelas dulu saat sekolah. Jadi pilihan mana yang nanti akan di ambil? Tunggu ya episode di postingan selanjutnya.

Kenangan di Singapore

Sudah 3 bulan yang lalu kenangan di beberapa tempat daerah singapore masih melekat dan merindu. Entah mengapa selalu ingin kembali kesana, berharap mendapatkan pekerjaan di sana. Entah bekerja di Google atau pun perusahaan lain. Namun itu hanya khayalan belaka, ah saya nggak mungkin dapat bergabung dengan perusahaan besar di dunia tersebut.

Teringat juga ketika saat mau sholat di masjid mohd Salleh, ada orang yang menanyakan asal dan menanyakan apakah saya sedang menjadi lecturer di Singapore ini, dan juga TKW Indonesia yang duduk bersebelahan di pesawat saat pulang, dia mengira saya sedang study di Singapore. Doa-doa semuanya ku aminkan, kelak bisa hidup dan tinggal disana.

Kenapa harus Singapore? Ya bagi saya, Singapore adalah tempat yang semua fasilitas ada, dan nyaman. Selain itu konon katanya kota yang termasuk dengan biaya hidup termahal di dunia ini tidak ku rasakan seperti itu, saya pikir cukup relatlif murah, bahkan harga cukup fair daripada di banding dengan Indonesia. Misalkan harga dalam mall maupun di luar tidak jauh berbeda, berbeda jika di Indonesia di mall harga bisa 5 kali lipat makanan di luar mall. Selain itu transportasi murah dan mudah. Satu kartu bisa di gunakan untuk semua transportasi. Dah pokoknya, kalau tinggal disana betah dah.

Walaupun hanya tinggal 4 hari disana, sudah betah untuk tinggal selamanya jika ada kesempatan dan atas ijin Allah SWT :D Beberapa hal yang ku suka adalah mulai dari subuh yang jam 06, yang bagiku jam segitu tidak seperti di Indonesia, subuh dalam keadaan masih gelap gulita, jarang yang mau keluar di jam jam tersebut, saya lihat di luar memang masih sepi lalu lalang, tapi tukang sampah sudah mengambil sampah hotel yang di letakkan di tong sampah depan hotel. Begitu juga dhuhur, saat itu baru tiba di Changi Air Port pada hari Jumat, dan pesimis dapat sholat jumat, karena jam 11 baru keluar dari Bandara dan menuju hotel di Geylang, dan ini hal pertama saya di Singapore, buta arah dan pengalaman. Baiklah, layaknya seorang backpacker, meluncur dari Bandara menuju ke hotel pun sempat tersesat di Paya Lebar Station, keluar menuju jalan raya ternyata bukan solusi, karena semakin tersesat :D alhasil jalan kaki lah dari Paya Lebar menuju Geylang. Ya lumayan sih, kira-kira 3-5 kilometer. Pada ketersesatan itu ada hikmah di balik itu kok, saya menemukan masjid wak tanjong. Ahaaaaa… ternyata ada sholat jumat disana, saya lihat di jam tangan yang sudah saya sesuaikan Jam wilayah Singapore sudauh menunjukkan angka 12an. Saat sholat jumat pun saya seperti di ingatkan oleh Allah SWT, di ingatkan bahwa masih jauh lebih sedikit sedekah yang pernah ku lakukan. Di sana beberapa orang dengan mudah mengeluarkan uang untuk sedekah. Pada umumnya di Indonesia di sekitarku, sedekah dengan lembar paling kecil, parahnya pakai koin. Saya melihat di sekeliling shof, hampir semua mengambil kertas bernominal $5-10 bahkan lebih, tak terlihat ada yang sedekah dengan nominal koin misal $1. Saya lihat di pengumuman takmir masjid tentang infaq dan sodakoh terkumpul pun membuat terkejut :D, ya mungkin kalau di kurs SGD memang mungkin sedikit, tapi kalau di rupiah kan bisa hampir bernilai ratusan juta lebih. Pelajaran tersebut sangat menggugah hati saya. Oh ya kembali lagi pada sholat jumat, sholat jumat belum di mulai sudah penuh tempatnya, dan di mulai khotbah dan sholat sekitar jam 13. Maaf bukan membanding-bandingkan secara generalisasi, kebiasaan saya yang datang sholat jumat di menit akhir ini pun harus ku ubah, ternyata kebiasaan negara yang mayoritas Islam di Indonesia banyak perbedaan kebiasaan dengan minoritas Islam disini. Saya menemukan beberapa hidayah kecil dalam kegiatan sehari-hari di sana. Perbedaan waktu sholat ini yang ku rasa nyaman pas dengan kondisi tidak mengganggu sama sekali.

Keunikan lain yang kudapatkan dan dapat ku pelajari adalah tidak ku menemukan orang menguap karena mengantuk, jarang ku temukan wanita / laki-laki berpostur gemuk, jarang orang naik motor, jarang tukang parkir juga tentunya, dan tak pernah melihat kecelakaan kendaraan dan yang paling penting jarang menemukan sampah :D. Kalau hal buruk disana ketemu gak dek rizky? Ya tentunya setiap kebaikan pasti ada lawan nya, yakni keburukan. Kok nggak di sebutkan sih keburukannya? Ya, ada yang saya tidak suka di Singapore ini, beberapa ku temukan pasangan cowok cewek mojok di train, tapi mojoknya bukan hal tak baik, sebatas ngobrol dengan jarak dekat antar wajah, banyak ku temukan rok mini dan baju adik. hahaaha…. Dan yang terakhir saat di train jarang yang ngobrol, mereka pada sibuk dengan gadget masing-masing.

Geylang yang katanya kategori red district, red district disini adalah semacam sebuah terlarang, karena di sekitar kawasan tempat prostitusi, malah saya tak menemukan yang aneh-aneh, entah karena tersembunyi atau saya yang kurang pikniknya :D. Padahal kalau saya pulang dari keliling piknik seharian pasti sampai malam, bahkan pernah sampai jam 12 malam waktu setempat, pulang jalan kaki dari Kallang station menyusuri geylang lor 1 sampai lor tempatku menginap.

Masih banyak cerita yang ingin saya bagi, namun apalah daya aku yang jarang bisa menulis panjang dan runtut, mungkin lain kali saya share itinerary ke singapore nya dengan budget limited :D