Susur Sungai Semuncar Gunung Merbabu Candisari, Pantaran, Ampel Boyolali

Hari ini 15 November 2012

07.42 Berangkat dari Sekretariat Komboy. Personil yang terkumpul mas Agung,Rizky, mbak Ifah, mbak Fath Difani….

08.00 Sampai perjalanan Ampel, dari Jalan Ampel – Semarang Belok kanan menuju Pantaran… Disitu kami standby sebentar menunggu teman teman yang lain. Bertemu dengan mas Yana dan mas Faris. Dikabarkan bahwa petunjuk jalan mas Joko, sedang mengalami trouble kendaraan, sehingga kami mendapat mandat langsung ke Lapangan Pantaran…

08.20 Sampai di Lapangan Pantaran, Berjumpa dengan mas Andi (Fanspage Persebi) di lapangan Pantaran, Lalu sarapan mie ayam di daerah tersebut sembari menunggu mas Joko di Bumi perkemahan Indra Pasta. Setelah bertemu dengan beliau, kami saling berkenalan dan mulai perjalanan ke basecamp yang berada di desa Candisari.

08.56 Sampai di Basecamp, kami berkenalan dan ramah tamah dengan tuan rumah  Bapak Suripto yang menjadi basecamp kami… Disana kami di beritahu arah dan saran2 untuk menuju ke Air Terjun yang menjadi tujuan kami. Terdapat dua mata air semuncar dan sependok, dan bertemu di tempuran… Namun sekarang sudah tidak mengalir sampai tempuran, karena sudah di ambil PDAM. Tinggal semuncar yang yang mengalir saja. Terdapat pro kontra dengan masyarakat setempat dalam hal pengambilan aliran Air.

09.34 Mulai perjalanan start dari Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi. Disini terdapat 12 orang yang akan menuju perjalanan. 8 diantaranya dari Komunitas Boyolali, dan 4 dari siswi MAN Tengaran yang kebetulan bersedia mengikuti susur sungai ini. Namun 2 siswi tersebut menyerah di awal perjalanan sehingga mereka tidak melanjutkan perjalanan ini. Continue reading “Susur Sungai Semuncar Gunung Merbabu Candisari, Pantaran, Ampel Boyolali”

You want search this ?

Penghargaan = Uang kah?

Diskusi-diskusi kecil kemarin dari suatu komunitas membuatku mengasah otak ku setiap opini2 dari teman2. namun ada beberapa yang terlintas agak gak sreg, ketika membicarakan sebuah tema, yang pada dasarnya aku merumuskan sendiri penghargaan = uang?

Memang uang tidak dibawa mati, tapi kita bisa mati tanpa uang. Itulah geguyonan teman2 di sekitarku. Namun kenapakah harus uang yang jadi parameter? Coba kita runut cerita dibawah, Apa yang membuat seorang Pelukis di hargai? LUKISANnya dengan UANG, bukan? Apa yang membuat seorang Striker sepakbola di hargai? Setiap GOLnya dengan UANG, bukan? Kenapa harus UANG? Ya mungkin karena sebuah profesi…

Tapi kita akan mati enggak, kalau LUKISAN kita sudah tidak laku lagi? Akankah pemain bola mati kalau kaki sudah tidak bisa mencetak gol lagi? Bagiku, barometer penghargaan itu tidak selalu berhubungan dengan uang… Setiap orang bermanfaat bagi orang lain, pasti akan tidak mati. PELUKIS pasti bermanfaat bagi penikmat LUKISANnya, begitu juga PEMAIN BOLA, pasti bermanfaat bagi FANS, pemilik klub, dan individu lainnya. Dan UANG adalah sejumlah rejeki dari mereka yang telah kita beri manfaat. Tapi kalau kita tidak diberi uang, apakah kita tidak bermanfaat bagi mereka? Continue reading “Penghargaan = Uang kah?”