Melanjutkan bagian yang kemarin telah saya tulis dengan drama di Tune Hotel Danga Bay, Johor Bahru, Malaysia, dan harus kembali melanjutkan perjalanan ke Singapore agar bisa ontime. Di hari kedua ini kami menargetkan berangkat pagi hari jam 7 pagi dari Hotel menuju ke JB Sentral lalu menyebrang lewat darat ke Woodland menggunakan bus, dan setelah sampai di Newton mencari sevel terdekat untuk beli EZ link dan makan siang, lalu ke garden by the bay dan ke marlion park dan balik lagi ke Newton dan kembali ke Johor Bahru dan terbang ke Kuala Lumpur. Akan tetapi manusia hanya bisa merencanakan dan Allah yang berkehendak lain, pastinya yang terbaik buat kami.

Checkout Tune Hotel Danga Bay

Kami mulai berangkat sekitar pukul 07.30 pagi karena terpaksa molor karena memang kurang jam tidur. Checkout nya di hotel tune hotel danga bay ini cepat dan tanpa basa-basi, akan tetapi internet wifi hotel yang lemot, menjadikan lebih lama hanya untuk memesan sebuah taksi online atau grab. Yap, kami memakai grab ke JB Sentral dan dikenakan tarif 10 ringgit. Murah ya? Hahaha…

Berangkat ke JB  Sentral dan Sultan Iskandar CIQ

Ternyata memang deket banget ke JB Sentral, drivernya pun memberikan informasi untuk turun dan tinggal naik saja kalau mau ke singapore. Baiklah karena masih pengalaman pertama kami ikuti informasinya, saya naik ke atas masuk ke JB Sentral. Saat itu masih sepi sekali, hanya beberapa orang berlalu lalang. Karena kami belum sarapan kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di kedai, kami lupa nama kedainya, kami memutuskan ke kedai bukan ke KFC karena ingin makan nasi, dari kemarin belum makan nasi. Saya makan nasi lemak yang modelnya mirip nasi kucing, istri juga makan nasi lemak, dita makan kalau di Indonesia semacam nasi rames. Minumnya tentu es milo hehe tapi dita minum es teh. Di sini menyebut es teh yang seperti di Indonesia adalah teh gula. Total ketiga porsi makanan adalah 19,8 ringgit. Salah satu dari pramusaji di kedai itu juga berasal dari Indonesia, tepatnya dari Cilacap. Saya pun menanyakan tentang bagaimana cara naik bus ke Singapore, dia mengatakan nanti turun saja ke bawah bisnya. Dan ternyata salah =)) saya coba turun ke lantai bawah, memang busnya dibawah, tapi tidak ada loket untuk membeli tiket, akhirnya balik naik ke atas, bermodalkan plakat arah menuju Woodland. Ternyata kami memasuki bangunan Imigrasi Malaysia yang dinamakan Sultan Iskandar CIQ. Masih terus mengikuti alur plakat yang ada, kami telah memasuki pos pemeriksaan imigrasi, proses  cap paspor cukup cepat karena masih sepi sekali. Dari bangunan tersebut saya berjalan mengikuti petunjuk untuk naik bus, kami tidak tahu harus kemana, ada dua pilihan dan saya pilih salah satu diantaranya. Yap, benar kami menuju halte bus ke Singapore, namun saya tak menjumpai pemberhentian Causeway Link 5 (CW5) yang menuju ke Newton. Lalu gimana? Ya sudah, feeling saya berkata, ya sudah yang penting dapat bis dulu dan sampai ke Singapore, karena kita sudah terlalu lama molornya. Nah kita naik bus CW2 yakni tujuan queenstreet. Sebenarnya ada dua opsi pemberhentian, CW1 dan CW2. Karena CW1 hanya sampai kranji dan harus oper dengan MRT atau bus untuk menuju ke kota singaporenya, kami putuskan untuk naik CW2 tujuan Queen Street. Dimana Queenstreet ini tak jauh dari bugis, dan saya sudah mempelajarinya tentang CW1, CW2, CW5 sebelumnya. Kita naik Bus dan membayar dengan ringgit, 3,4 ringgit per orang sampai di Queen Street. Kami naik dan menuju ke Woodland Singapore.

Woodland CIQ Singapore

Perjalanan bis dari Sultan Iskandar CIQ ke Woodland CIQ seharusnya cuma ditempuh dalam 20-30 menit. Akan tetapi kami terkena traffic jam, macet sekali. Beberapa ada yang nekat turun lalu berlarian di pinggir jalan untuk menuju ke Woodland, tapi kami memilih untuk tetap bersabar. Namun waktu menunjukkan perjalanan lebih dari 30 menit, kami mulai cemas. Kami mulai cemas karena jam 2 harus segera kembali ke JB Sentral agar tidak terlambat pesawatnya. Kami mencoba komunikasi dengan driver untuk turun dipinggir jalan, tetapi pakcik melarangnya, katanya bentar lagi sampai dan sabar saja. Baiklah sampai di Woodland kami lari menuju ke imigrasi Singapore. Ini pertama kali masuk ke Woodland CIQ Singapore, seperti biasa kami harus menulis data kami untuk masuk ke singapore. Dulu pernah ngisi ini pas di Changi Airport, ya dengan PDnya kami mengisi dan membantu cara pengisian kartu tersebut pada satu keluarga dari Banda Aceh. Saya lupa namanya, yang jelas dia lalu ikut antri dibelakang saya. Sembari ngobrol ternyata dia mau ke Singapore untuk pertama kalinya. Dan mau ke KL nanti untuk liat moto GP. Antrian tidak bergerak, petugasnya sepertinya lelet sekali, alhasil saya memilih untuk pindah antrian. Tiba giliran antrian istri saya mengkoreksi data yang kami tulis, ternyata ada kesalahan. Singkat cerita saya, istri, anak dan Dita lolos. Sedangkan keluarga dari banda Aceh anak, istri lolos, suaminya kena random check. Random check adalah istilah untuk seseorang yang di cek lebih detail tentang keimigrasiannya, untuk penentuan cek ini kami kurang tau, sehingga kami menyebutnya random (acak). Baik yang sering ke Singapore, maupun pertama kali, baik yang bawa uang banyak dan yang gak bawa uang banyak, semua memiliki kesempatan untuk kena random check. Oh iya, saya masuk Singapore cuma bawa 20SGD :)) parah yah? hahaha. Untung bisa lolos tanpa ditanyai macam-macam. Untuk random check ini, saya sudah menginformasikan kepada teman saya, dan istri. Bahwasanya intinya jangan gugup dan panik ketika ditanyai petugas imigrasi. Intinya sudah saya briefing beberapa pertanyaan yang akan muncul, namun beruntung, tidak ada banyak pertanyaan. Cuma mengganti informasi isian data yang salah. Baru sadar setelah keluar imigrasi, ternyata saya salah menuliskan from dan next city after singapore. Hohoho… Lolos dari Woodland CIQ kami lanjut menuju bus CW2, tak lama kami mendapatinya dan cuss ke Jalan Queen di sekitar Bugis.

Sultan Mosque dan Marlion Park

Kami tiba di Queen Street kurang lebih pukul 1 siang, saat berkumandang adzan dhuhur. Ternyata kami menjumpai ada masjid terlihat megah bangunan kubahnya, lantas kami menuju kesana untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Sebelum ke masjid, agar kami merasa aman, kami masuk ke seven eleven (sevel) . Kami membeli SIM Card Local, dan 2 EZLink. EZlink kami hanya butuh dua saja karena istri masih punya waktu tahun kemarin di Singapore, kalau punya saya sudah ku kasihkan istrinya teman. Jujur kami dari kemarin hanya mengandalkan wifi public saja, dan sepertinya saat ini perlu untuk membeli SIMcard karena selain pesanan dari bos, juga membutuhkan internet paket data. Kami membeli EZlink @10 sgd, saldo isinya 5 sgd. Untuk simcard lokal saya dikasih M1 seharga 15 sgd. Pembelian simcard harus memberikan paspor untuk di scan mereka. Untuk pembelanjaan kami semuanya habis 35 sgd. Lho katanya bawa uang cuma 20 sgd? Saya bayar pakai kartu kredit karena memang di Singapore cashless saja. Tidak ada tarif charge 2,5 persen jika bayar pakai KK, kalau di Indonesia kadang ada yang mengenakan charge, jadi ya beda kultur. Selama nol persen ya tidak masalah. Lanjut sehabis beli sevel keluar ketemu ibu-ibu menanyakan lorong 20, kami tidak tahu ya saya skip saja. Lanjut menuju ke Mosque. Perjalanan ke mosque ini di luar itenarary kami. Ternyata begitu megahnya dan luar biasa masjid ini. Kami beristirahat sebentar, sholat dan mengganti simcard. Setelah sudah selesai, kami bergegas memesan grab untuk langsung menuju Merlion Park. Tujuan kami awal tadinya garden by the bay dulu lalu ke marlion park. Tapi karena waktu tidak mencukupi, kami putuskan untuk merlion park saja. Ada yang nerima grab saya, namun beberapa kali mereka masih membawa penumpang untuk diturunkan, jadi aneh kan? Driver masih membawa penumpang kok masih bisa angkut penumpang? Padahal bukan grabshare? Entahlah mungkin beda negara beda kebijakan. Namun lama sekali, ada beberapa yang kami putuskan untuk cancel karena buru-buru. Karena grab saya pakai nomor Indonesia, driver kesulitan untuk menelpon saya. Saya pun memberikan nomor singapore yang baru saja dibeli. Driver menelpon saya pakai bahasa Inggris, ya salam.. haha kemampuan bahasa Inggris saya sih gak begitu bagus, saya cuma paham tapi gak bisa ngomongnya wkakakkaa… Ini inti percakapan driver dengan saya yang sudah saya terjemahkan bahasa Indonesia. “Sultan mosque sebelah mana?”  Saya jawab “Depan kedai xxx”. Driver “Maksud saya pasnya sebelah mana, karena tidak semua driver tau nama-nama kedai disitu.” Saya jawab “Jalan Arab dekat traffic light”, lalu driver meminta untuk menyebrang dan menunggu di kanan jalan, karena memang di kiri jalan lajur jalan terus dan searah. Kami menuju ke Merlion park dan telah sampai, saya kena scam nih sama driver, dimintai tambahan 1sgd untuk uang drop off. Biaya dari Sultan Mosque ke Merlion park sebenarnya cuma 8sgd, namun kami disuruh bayar 9 sgd. Tak masalah yang penting sampai di Merlion Park hahaha, kurang lebih hanya 30 menit saja disana untuk ambil poto… hahahaha.. Sehabis itu langsung cun balik lagi ke queen street untuk kembali pulang hahaha cepat amat. Kami balik pakai grab lagi sebesar 8sgd tanpa dipungut biaya take masuk dekat starbuck ini. Btw grab di Singapore keren-keren mobilnya, sempat dapat camry, tapi saya cancel karena driver masih bawa penumpang. Sesampainya di queenstreet, kami sudah ditunggu bus CW2 menuju Terminal Larkin. Saya sempat salah beberapa kali untuk pembayaran tiket dari queenstreet ini, kami bayar pakai EZlink karena memang tujuan beli selain buat transportasi, bisa juga sebagai kenang-kenangan karena berlaku 5 tahun kartu ini. Untuk tujuan ke larkin ini kami dikenakan 3,4 juga, tapi dalam bentuk sgd. Jadi 3,4 sgd per orang. Jadi sisa di EZlink kami hanya 1,6sgd dan istri masih 6,6 sgd karena dulu masih tersisa 10sgd. Kami bergegas naik bus dan langsung berangkat, kurang lebih 30 menit perjalanan tanpa hambatan. Ditengah perjalanan saya mencoba mendaftarkan roaming agar bisa dipakai di Malaysia hingga akhirnya kami kembali tiba ke Woodland lalu turun dan keluar imigrasi Singapore tanpa hambatan dan menuju imigrasi malaysia.

Drama Terciduk di Sultan Iskandar CIQ

Antrian di Sultan Iskandar CIQ ini tidak terlalu ramai, bahkan tanpa antrian. Saat itu Dita, saya dan istri masuk berbeda loket. Namun saya melihat adanya logo antrian  difabel, akhirnya saya mengantri di belakang Dita. Dita, istri dan anak lolos masuk Malaysia, sedangkan saya masih menunggu entah apa yang terjadi dengan paspor saya. Saya menunggu kurang lebih 5menit lalu disuruh untuk menuju ke loket tersendiri. Makcik petugas imigrasi bilang, kamu temui kawan saya dibelakang. Lalu saya masuk menemui pakcik petugas imigrasi malaysia. Disela-sela penantian, satu orang di depan saya kena deportasi. Tidak bisa masuk Malaysia. Dan saya masih menunggu lama lalu setelah giliran tiba, petugas imigrasi memberikan pertanyaan awal, mau apa ke Malaysia? Jalan-jalan. Kamu tahu tak kenapa kamu disini? Tak tahu. Kamu tahu tak kesalahanmu apa? Tak tahu. Sempat ke ini ke Bandara? Sempat. Lalu istri menghampiri ku dan pura-pura meminta air minumnya Hamda. Lalu petugas imigrasi bertanya, “Siapa ke ini?” Istri. Bini orang sini? Tak. Lalu saya bingung dengan bahasa malaysia yang tadinya ku kira tentang Job ternyata cop (cap) . Lalu ditanyakan kembali, sempat ke ini sampai bandara? Saya jawab berbeda yang lebih islami. Insya Allah sempat. Dalam hati ku ingin saya jawab, sial, tau kalau gak sempat kenapa dibikin susah ditahan seperti ini? Waktu itu menunjukkan pukul 4 sore, dan penerbangan jam 17.45. Akhirnya setelah menunggu dan cap sidik jari lolos juga. Dan kami lari kecil keluar imigrasi dan kembali ke JB Sentral keluar dan tetot… kami tidak bisa memesan grab ke bandara senai, saya sudah mencoba untuk mendaftarkan roaming namun sinyal data tidak kunjung keluar. Akhirnya saya menghampiri sebuah taxi dan ngobrol tentang tarif. Disepakatinya menggunakan fare taxi sekitar 53 ringgit. Harganya 2kali dari harga grab. Namun bagaimana lagi, harus segera kembali ke Senai untuk check in. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 30 menit, jadi kami tiba sekitar jam 5. Kami akhirnya memberikan 55ringgit ke driver taxi yang sudah berumur 60 tahun ke atas itu.

Delay di Bandara Senai

Manusia memang hanya bisa merencanakan dan Allah punya rencana terbaik. Saya lega melihat jam penerbangan delay sampai jam 7an malam. Karena masih memiliki waktu yang panjang saya kendorkan pikiran dan slowdown. Ternyata bandaranya cukup bagus, beda banget pas malam hari sepi kayak kuburan, ternyata kalau sore-malam giniKami menukar uang sgd yang tadinya untuk makan di Singapore. Masih ada sekitar 100 lebih sgd, karena cuma terpakai sekitar 20 sgd saja untuk grab. Setelah menukar sgd ke myr. Kami mencari makan, mencari nasi lagi :v jatuhlah pilihan ke KFC, saya memesan paket 2 ayam pedas dan semacam kentang. Istri dan dita makan paket 3 ayam dan semacam kentang. Minum es milo dan pepsi, dengan tambahan nasi. Total habis 60 ringgit, kalau di rupiahkan sekitar 190ribu. Makan bertiga sampai gak habis karena porsi ayamnya gede dan banyak, lalu selayaknya orang Indonesia, di bungkus lah masukkan tas kresek, dan masukkan tas =)) Makan selesai kami bergegas untuk checkin, kami masuk dengan menunjukkan boarding pass yang sudah di print. Drama kembali mulai, Hamda rewel, feeling saya emosi istri nular ke anak, karena memang perjalanan ini menguras fisik, apalagi istri ndak terbiasa jalan-jalan atau pun lari-lari. Lalu ku gendong lah Hamda, tuh masih mau senyum kan…? Tapi saya tahu kalau pas saya gendong, ternyata Hamda panas sekali. Tapi aku pura-pura diam, biar istri tidak panik dan tidak semakin menjadi badmoodnya. Drama kembali ketika Hamda bau tak sedap, sepertinya eek padahal stok popok Hamda habis, saya sudah cari toko di Bandara tidak ada yang menyediakannya, akhirnya Hamda memakai pembalut istri saya sebagai popok sementara. Sambil menunggu delay yang berkepanjangan saya membeli Ion (semacam pocari sweat) seharga 3 ringgit dan istri membeli jasmine tea seharga 3,8 ringgit untuk meningkatkan daya tubuh, karena jujur capek banget, tidur kurang, perjalanan panjang, dan as begitulah. Apalagi stroller yang saya bawa ternyata lupa belum di tag check in, takutnya nanti ilang pas di Bandara karena tanpa ada label. Lalu aku keluar melalui pintu exit dan di hadang olelh petugas avseq, dan saya menjelaskan, saya lupa memberikan tag di stroller, saya ingin keluar checkin bagasi untuk stroller, dan diperbolehkan lewat. Saya jalan sampai pintu masuk boarding dan bertanya kepada petugas airasia, dimana tempat cek in, dan dikontakkan melalui Handy Talky (HT) masih bisa untuk tujuan ke KL. Saya cus ke bagasi cek in dan minta tag, ternyata petugasnya asal-asalan memberikan tag, saya dikasih tag yang tadi pagi. Memang sih tujuan nya juga ke KL. Tapi sudah dijamin tidak akan ada masalah, okelah saya berterima kasih lalu masuk boarding room. Delay ternyata cukup lama, gate yang saya tunggu ternyata salah =)) tidak sesuai dengan di kertas print, lalu ku tengok monitor dan ternyata di gate sebelahnya agak jauh. Saya lihat beberapa di antara penumpang memprotes atas keterlambatan ini. Saya cek pakai aplikasi flight radar, ternyata pesawat yang akan saya pakai untuk pulang ke KL ini masih berada di perjalanan menuju KL, ya salam… berarti masih menunggu sampai KL dan menuju senai. Ya kurang lebih 1 jam, pesawat sudah tiba dan bergegas untuk masuk pesawat. Dan kita berangkat ke KL, perjalanan tidak sampai 1 jam menuju KL.

Bandara KLIA2 menuju Apartemen Pertama

Tiba di Bandara KLIA2 yang ku tuju adalah lugagge bagage, yap mengambil dua koper yang sudah lewat jam, dan terpakasa saya harus bayar full juga sehari seharga total 38ringgit. Tapi tidak mengapa anggaran loker saya masih dibawah budget yang sudah kami siapkan. Lalu kami memesan grab untuk menuju apartemen pertama. Karena kalau naik bus hanya sampai kl sentral dan harus oper lagi, karena bawa barang banyak, saya memilih grab saja. Dengan fasilitas internet bandara, saya mendapatkan driver perodua, ya kalau disini sebesar mobil Ayla dan Agya. Driver menanyakan apakah barang saya banyak, berapa orang, ya atleast ramah sih orangnya, cuma saya yang kesulitan berkomunikasi lantaran internet bandara tidak sampai ke pintu keluar bandara. Jadi saya nunggu di burger king dekat pintu keluar untuk mendapatkan sambungan internet. Tarif grab dari KLIA2 ke apartmen pertama 69 ringgit pada jam malam. Kalau di hitung-hitung memang mahal, tetapi pasti terbayar dengan tingkat keribetan nati kalau pakai bus yang masih oper dari KL sentral ke apartemen pertama. Di perjalanan KLIA2 ke apartemen inilah baru saya mendapatkan anugerah (hahaha). Paket data m1 sim singapore saya bisa roaming di Malaysia. Ternyata musti di mati-hidupkan terlebih dahulu untuk pengaturan roaming ini, tidak hanya sekedar mode pesawat. Lalu saya mengabari Teong dan temannya teong untuk menanyakan kunci kamar apartemen. Dan kami dengan mudah checkin di Apartemen Pertama di sekitar taman kobena, cheras. Saat masuk hanya di mintai paspor oleh satpam setempat. Karena sudah capai, kami ngobrol, melepas lelah santai-santai di apartemen ini hingga tertidur.

One thought on “Hari Kedua Singapore, Saya Terciduk Imigrasi Malaysia”

Leave a Reply