Tulisan ini akan saya mulai langsung hari pertama tiba di Kuala Lumpur International Airport 2. Tiba di bandara ini cukup ontime dari jadwal penerbangan. Sehingga kami masih menyisakan setidaknya 3 jam untuk menyambung ke pesawat selanjutnya menuju Senai, Johor Bahru. Kali ini adalah kali keduaku menginjakkan bandara ini. Meskipun baru beberapa tahun kemarin, jujur saya lupa rute jalan-jalannya di Airport ini, maklum dulu cuma mengekor mas Hendro yang mengajarkan ku mbolang ke Luar negeri. Keluar dari pesawat adalah yang kutanyakan stroller, ternyata strollerku yang dibagasi pesawat sudah tersedia di depan pintu keluar pesawat. Alhamdulillah, ini artinya saya tidak perlu menggendong dan mencari kemana stroller yang ada di bagasi.

Bandara KLIA2

Saya coba keluar mengikuti petunjuk arah sampai saya bertemu dengan lugagge storage (beruntung sekali) karena saya rencana akan menitipkan koper disana. Tapi dimana sih mengambil koper saya yang dari bagasi pesawat, sambil muter-muter nyari sini-sana akhirnya ketemu. Setelah ketemu 2 koper, kami muter-muter sebentar untuk explore. Setelah sedikit tahu beberapa petunjuk (plakat), kami istirahat sejenak di kursi depan lugagge storage KLIA2 ini, mumpung tempat ini strategis, karena ada nursing room, toilet di sekitarnya. Sempat boring menunggu lama, dan ternyata setelah menyalakan wifi dan konek dengan internet bandara mampu menghilangkan kebosanan sambil menunggu istri selesai dengan urusannya. Sambil ambil brosur tentang KLIA2 di sekitar situ, karena jujur saya gak begitu belajar sebelumnya mengenai KLIA2 ini, yang saya yakini pasti petunjuknya lengkap kalau tiba disana seperti pengalaman di Bandara Changi Singapore. Selesai urusan menyusui dan toileting, kami bergegas untuk muter cari makan, dan karena sudah  haus akhirnya beli air mineral seharga 3 ringgit per botolnya, tak lupa untuk sholat sebelum melanjutkan perjalanan.

McD

Selesai menunaikan sholat kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, urusan makan biasanya yang ribet adalah istri. Karena biasanya suka milih-milih ini itu, berbeda dengan saya yang memang harus siap beradaptasi dengan budaya setempat. Yap budaya makan daging, junk foot, burger atau sejenisnya. Akhirnya kami memilih McD untuk makan siang menjelang sore tersebut. Kami memesan paket apa ya lupa, intinya burger, kentang, dan milo ice, lalu porridge (bubur) untuk Hamda dan Dita, karena dia juga kurang suka katanya dengan daging (taunya daging mentah kali, padahal ya daging kayak nugget). Untuk ketiga porsi makan tersebut kurang lebih habis sekitar 45 ringgit. Ya worth it lah 150ribu buat makan bertiga-empat sama bayi. Tapi sayang porridge nya ndak enak, jadi gak kemakan. Kenyang makan kentang dan burger. Rasanya memang beda dengan yang di Indonesia, lebih banyak dan enak yang disini.

Luggage Storage KLIA2

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke Senai, karena jadwal sudah mepet harus bergegas untuk ke boarding room. Selain mepet saya juga baru pertama kali penerbangan domestik di bandara ini, jadi harus spare waktu yang lebih untuk memahaminya. Oh ya, kami ke bandara Senai tujuannya adalah Johor Bahru, untuk bermalam disana dan keesokannya menyebrang ke singapore. Karena saya bawa 1 stroller, 2 koper, tas ransel, dan tas perkap bayi ndak mungkin saya bawa kesana kemari, kami titipkan 2 koper di Luggage Storage. Perkiraan awal kami habis 300ribu per hari, yang ternyata hanya 38 ringgit saja, sekitar 150ribu rupiah gak sampai. Tapi sudah di warning oleh petugasnya, meskipun besok terlambat 1 menit pun, akan dikenakan 38 ringgit lagi. Oke deal, karena jadwal penerbangan balik ku agak malam dan masih ada waktu untuk tidak terlambat. Terasa longgar setelah menitipkan 2 koper tersebut karena tinggal membawa 1 stroller tas ransel dan tas perkap bayi, lalu kami bersiap ke boarding room untuk terbang ke Senai. Semua tiket penerbangan trip ini sudah kami beli jauh-jauh hari sebelumnya.

Bandara Senai Johor Bahru

Penerbangan ontime sih walaupun ternyata sampai  di Senai hampir tengah malam. Bandara Senai itu kecil, jauh sangat perbandingannya dengan KLIA2, apalagi saat itu tengah malam, sudah sepi dan tidak ada kehidupan seperti di Bandara gitu hahaha. Sepi kayak di kuburan, masih banyak yang di renovasi dan keliatan sungut dan angker menurutku hahaha Dari Bandara Senai tujuannya untuk singgah adalah Tune Hotel. Semua sudah saya rencanakan dan perkirakan biaya dari bandara ke hotel dan beberapa destinasi lainnya melalui grab. Yap, saya menggunakan aplikasi andalan ini karena di Malaysia, grab tidak petak umpet kejar-kejaran kayak di Indonesia yang katanya ada yang merasa terusik dengan kehadiran taksi online ini. Nah saya pakai aplikasi ini dengan koneksi wifi bandara Senai (beruntung sekali di luar negeri wifi publiknya itu gratis dan gak problem, hehe berbeda kalau di Indonesia, sudah bayar masih banyak masalah wkwkwk itulah kenapa saya memilih pergi ke LN daripada jalan2 ke negeri sendiri). Saya memesan taksi online dengan nomor telpon indonesia dan modal nekat, hapalin plat nomor drivernya dan menunggu di titik khusus penjemputan/pengambilan penumpang. Dan meluncurlah kami berempat ke Tune Hotel di tengah malam yang dingin yang untung saja pas tidak turun hujan. Kenapa sih saya memilih tune hotel? Karena saya sendiri bingung, ini pertama kali ke Johor, menginap disini, dan review terhadap hotel atau penginapan disini relatif sedikit daripada di KL. Ya intinya saya tidak ingin hotelnya jauh dari JB Sentral, pusatnya transportasi di Johor Bahru. Tadinya saya ingin ke apartemen Tropez, harganya tidak jauh beda, ya mahalan dikit, tapi saya pikir karena di KL nanti sudah apartemen, saya ingin suasana yang beda. Ingin yang lebih private, nyaman, dan tentunya nyenyak toh lagian cuma 5 jam doang sayangkan buang uang banyak kalau apartemen. Sepanjang perjalanan ke Tune hotel ini drivernya ramah, ngaku darah jawa pula =)) Balik lagi tentang grab, Applikasi Grab di Malaysia ini hanya berlaku dua pembayaran, yakni cash atau Debit/Credit Card, saya sudah tanya ke CS Grab jauh hari sebelum berangkat. Karena gak bisa pakai saldo grabpay yang isinya lumayan dan intinya saya mau ngirit di awal, saya memilih bayar pakai CC dulu, dari Senai ke Tune Hotel 24 ringgit. Murah ya?

Tune Hotel Danga Bay

Tiba di tune hotel kami bergegas cek in, cek in nya lumayan cepat, sepertinya sudah disediakan 2 kunci untuk saya. Dan saya kena tambahan fee/pajak yang diberikan pemerintah Malaysia per orang 10 ringgit/per kamar dan per malam. Tapi entah kenapa saat itu saya cuma diminta 20ringgit. Pembayarannya pun tidak bisa pakai kartu kredit (duh berasa lagi di Indonesia gak bisa cashless) padahal ada mesinnya di meja resepsionis. Saat itu saya menempati kamar lantai 2. Saya naik lift ke atas, dan cek in dengan mudah. Masuk ke kamar kesan pertama adalah sempit banget ya Alllah :( kesan kedua kotor banget, karena seprei banyak bekas kotoran, dan bantalnya juga ada bekas noda hitam. Dalam hati ya maklum cuma 250ribu per malam sih. Ah ndak papa, naluri backpacker ku muncul wkwkwk yang penting bisa buat tidur bentar, paling 4 jam doang. Sambil beres-beres, saya sms ke Dita untuk cari makan karena memang belum makan malam. Perjalanan saya Alhamdulillah selalui di naungi keberuntungan, ada Sevel di samping hotel. Baiklah kami turun ke bawah beli sesuatu, karena istri lapar, saya sih gak begitu. Saya belikan 2 roti, teman saya ingin beli air panas aja, dan boleh lah beli air panas karena butuh untuk kebutuhan campuran bubur nya Hamda. Belanja habis 10 ringgit-an. Setelah di cek, ternyata yang mahal bukan beli rotinya, tapi beli tempat minumnya hahaha, kalau airnya mah gratis sepertinya. Rotinya itu cuma sekitar 1 dan 2,5 ringgit kalau tidak salah. Tempat minumnya itu 3,4 ringgit. Hahaha.. Ini baru drama awal di Tune Hotel. Dramanya lebih seru daripada drama Papa Setyo Novanto dan Tiang Listrik. Oke baliklah ke kamar hotel masing-masing, karena istri yang kelaperan sudah menunggu roti dan minumannya. Sebelum balik ke kamar masing-masing, saya sudah ngobrol ke Dita, abis ini keluar yuk jalan-jalan malam. Nah pas balik ke kamar masing-masing, saya masih sibuk menyiapkan minum dan roti untuk istri, eh Dita gedor-gedor pintu kamarku, ternyata dia di luar dan terkunci dari dalam karena kuncinya di dalam =)) entah itu drama apalagi, dia pun turun minta bantuan petugas. Dan mulailah drama Tune Hotel Danga Bay selanjutnya, karena saya sudah kencan dan dengan PDnya turun ke bawah untuk jalan-jalan dan keluar dari Hotel, eh ternyata Dita gak bergegas turun dan mungkin capek kali ya mau nyeduh popmienya. Ya sudah saya tunggu, lha kok lama? Saya mau balik ke kamar, ternyata pintu Hotelnya dikunci dari dalam :( Ya salam, saya kayak orang bego, unlock kuncinya hanya bisa dibuka dengan kunci kamar yg dimiliki masing-masing, nah kuncinya kan saya tinggal di kamar biar listrik kamar gak mati. Ya Rabb, nggembel deh di depan hotel, sampai hampir dihampiri Satpam karena mungkin mencurigakan wkwkkwk. Untung koneksi wifi Tune hotel bisa tersambung, lalu ku whatsapp dan sms Dita buat turun untuk jemput :( Nasib… nasib… Baiklah karena sudah turun ya sekalian jalan-jalan. Niatnya sih pengen jajan nasi goreng atau apa gitu kayak di Indonesia kalau malam kan ada yang jualan angkringan atau apalah paling tidak ya junkfood atau apalah. Ternyata nihil, gak ada apa-apa, kayak kehidupan di Desa. Bedanya pinggirnya udah jalan Raya yang gede doang. hahaha. Balik lah saya ke hotel… Singkatnya saya di kamar, wifian di kamar cari promo grab kalau ketemu kan lumayan bisa irit banyak gitu lhoh… Dan sudah nemu beberapa tinggal besok dicoba praktekan saja. Dan ketiduran deh, eh belum sempet tidur deng, masih di angan-angan lalu terdengar bunyi berdering keras sekali alarm kebakaran dan suara yang bising. Hah apa itu? Ngimpi? Enggak saya masih sadar kok. Lalu istriku bilang “mas itu kan alarm kebakaran”. Saya segera keluar kamar mencari tau sumber suara. Saya panik keluar cuma pake kolor dan bawa handphone. Sambil berusaha membangunkan Dita lewat telpon,whatsapp, sms, saya mendengar di pojokan sumber suaranya, kamar pojok pun sampai keluar dan saya mencoba menanyakan ada apa? Dengan santainya orang tersebut bilang apa gak jelas lalu balik lagi ke kamar menutup pintu. Saya panik saya coba untuk turun ke lobby untuk memberitahu hal tersebut, karena sering nonton film action, aku langsung inisiatif lewat tangga darurat untuk turun, karena kalau lewat lift, liftnya mati juga bisa konyol di dalam nanti. Saya lari ke bawah, ada dua pintu, saya coba buka ternyata bisa dan saya posisinya di luar hotel. Ya salam ke kunci lagi dong? Gak tau kenapa waktu kejadian itu saya buka bisa. Lalu saya demo ke resepsionis haha… Apes juga ngomongnya bahasa inggris campur melayu campur indonesia yang belepotan karena panik. Cuma ditanyai kamar lantai berapa dan minta untuk tenang saja. Ya gimana mau tenang coba? Alarm kebakaran bunyi, suara gemuruh keras sekali. Satpam ditanyain kayak orang bego, cuma jawab apa gitu kalau aku google artinya itu sebuah mekanisme mesin yang bermasalah. Baru deh keinget, eh istri sama anak masih di atas. Aku balik lagi deh ke lantai 2 melalui tangga darurat, ketemu sepasang orang lokal turun sambil bergumam, aku sapa sebisaku dan bilang untuk tenang, tapi dia juga agak panik dan marah-marah. entah marah karena terganggu atau karena lagi marahan sama pasangannya. Aku balik ke kamar, pintu kamar terkunci gak bisa kebuka dan kugedor-gedor gak di bukain, aku telpon whatsapp gak diangkat padahal sebelumnya sudah aku konek ke wifi hotel hape si istri ini. Ya salam, jangan-jangan kejebak di dalem? Gua gedor-gedor tu kamar dita sama kamarku keras-keras. Tapi gak ada yang keluar. Akhirnya istri dan anakku yang berada digendongannya menghampiri ku dari sudut yang lain sambil di antar resepsionis. Syukurlah, saya sebenarnya sudah bisa cukup tenang saat itu, walaupun suara masih bergemuruh dan saya belum dapat jawaban faktor apa yang mengakibatkan alarm bunyi. Informasi dari resepsionis katanya sih ada yang merokok sehingga terdeteksi dan bunyi alarm. Tapi suara bergemuruh masih bunyi meskipun alarm sudah mati. Dugaan sementara ku saat itu, Alarm bunyi, aliran listrik dipadamkan, listrik menggunakan genset. Karena saya inget ada jenis genset yang bunyinya gak karuan berisiknya. Saya sambung-sambungkan kejadian, baru inget kalau pintu masuk hotel tadi bisa ku buka berarti sistemnya mati. Oalah paling kalau kita menyebutnya istilahnya listriknya ngetrip. Tapi istri masih panik, tidak mau masuk kamar. Dia minta turun, minta kejelasan dari resepsionis, ya sudah aku antar turun lewat tangga darurat lalu stay di lobby. Ku lihat beberapa orang ras cina cekout rombongan, entah karena memang merasa terganggu atau memang saatnya checkout untuk menuju ke Singapore. Saat itu kurang lebih pukul 2 pagi. Resepsionis meyakinkan semua sudah OK, lalu kami balik ke atas, meskipun masih samar-samar terdengar suara gemuruh tersebut. Saya pun akhirnya solat dan bergegas untuk tidur karena nanti jam 6 atau 7 harus cekout segera agar bisa ontime di Singapore. Bisa tidur? Ya bisa tapi paling cuma 30 menitan, karena abis itu hape saya sudah berdering =)) Intinya saya kapok di Tune Hotel Danga Bay. Kalaupun itu suara genset, kenapa bisa seberisik gitu? beli lah yang gak ada suaranya :( Beli lewat saya gensetnya nanti saya sambungin ke client saya yang bisnisnya di bidang pergensetan. Di gambar Oke banget hotelnya tapi ternyata dafuk banget, tau gitu di hotel sebelahnya, nominal segitu sudah dapat breakfastnya :( Not recommended lah disini, meskipun strategis tempatnya saya next kalau kesini mending ke hotel sebelahnya !

Written by 

6 thoughts on “Hari Pertama KL dan Drama di Tune Hotel”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *