BabyMoon Part II

Setelah berhasil di Babymoon part I kemarin, saya langsung merencanakan babymoon part II. Moment ini tidak akan saya sia-siakan, karena mungkin setelah istri melahirkan, tenaga dan pikiran pasti akan tertuju kepada anak, tanpa memikirkan berbagai liburan. Ya sih, sudah di rencanakan tahun depan untuk liburan Honeymoon part II. Pertama yang kulakukan adalah menentukan destinasi. Pilihan yang tepat memang tak jauh dari Yogyakarta. Keputusan jatuh pada Kaliurang, Sleman Yogyakarta.

Berawal dari hunting hotel yang ada di Kaliurang, akhirnya menemukan pilihan hati di vila di jalan kaliurang km 20. Karena rencananya satu hari itu terlalu singkat, maka saya kembali memesan hotel untuk hari kedua di villa yang sama. Kami memutuskan liburan di awal bulan yakni tanggal 1-2 Oktober agar tidak terganggu kondisi keuangan.

Singkat cerita, saya dan istri berangkat dari Cepogo, Boyolali. Sebenarnya Cepogo juga lereng gunung merapi-merbabu, dan Kaliurang adalah lereng merapi. Kami memutuskan berangkat setelah sholat ashar, karena menunggu hujan yang tak kunjung reda.Tapi kami nekat berangkat menempuh jalur utama melewati Boyolali-Klaten-Sleman-Kaliurang agar terhindar dari jalan yang tak di ketahui kondisinya, maklum istri sedang hamil, jadi harus lebih ekstra waspada. Selama perjalanan di temani hujan rintik dan kadang deras. Kalau deras terpaksa harus berhenti menepi, karena alasan membawa barang elektronik seperti HP, laptop dll. Hujan mulai reda ketika memasuki jalan Kaliurang. Ini pertama kali saya menyusuri Jalan Kaliurang di atas km 10. Karena dulu waktu merapi meletus saya sempat kopdar dengan teman di jakal km 10.

Di perjalanan tersebut, saya melirik sebuah cafe. Cafe yang unik, memakai lilin dan bernuansa remang bercahayakan lilin ala Candle light Dinner. Ehm romantis sekali, pikir saya. Tapi setelah melewati cafe tersebut saya baru sadar, ternyata di sekitar jalan tersebut mati lampu. Oh berarti cafe tersebut tidak memiliki genset. Dan beberapa seperti toko yang menjamur di Indonesia itu bercahaya terang benderang layaknya toko yang masih hidup, dan yang lain adalah seperti toko yang tutup. Ya karena toko mainstream tersebut memiliki mesin genset sendiri. Namun kondisi malam itu gelap sekali karena sekeliling mayoritas tidak memiliki genset, sampai villa yang di tuju kami coba langsung menyelonong masuk. Dan di berhentikan oleh petugas dan menanyakan apakah sudah memesan disini? Dan ternyata pesanan online saya tidak terekam oleh pihak villa, yang tercatat untuk hari besok. Ya salam ! Bagaimana ? Sudah basah kuyup tapi tidak dapat tempat? Istri banyak mengomel, karena saya tahu pasti kecewa, dan capek sekali selama perjalanan. Tapi itu bukan menyelesaikan masalah. Masalah itu harus di hadapi jangan lari dari masalah. Saya coba telpon konfirmasi dari pihak pemesanan online. Setelah berdiskusi antara saya, pihak villa dan pihak pemesanan hotel kami mendapatkan solusi di pindahkan ke hotel sekitarnya. Alhamdulillah, meskipun nuansa bukan villa, atleast hotel yang semalamnya 450ribu dapat melegakan hati ini. Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu ya di postingan berikutnya :)