Kenangan di Singapore

Sudah 3 bulan yang lalu kenangan di beberapa tempat daerah singapore masih melekat dan merindu. Entah mengapa selalu ingin kembali kesana, berharap mendapatkan pekerjaan di sana. Entah bekerja di Google atau pun perusahaan lain. Namun itu hanya khayalan belaka, ah saya nggak mungkin dapat bergabung dengan perusahaan besar di dunia tersebut.

Teringat juga ketika saat mau sholat di masjid mohd Salleh, ada orang yang menanyakan asal dan menanyakan apakah saya sedang menjadi lecturer di Singapore ini, dan juga TKW Indonesia yang duduk bersebelahan di pesawat saat pulang, dia mengira saya sedang study di Singapore. Doa-doa semuanya ku aminkan, kelak bisa hidup dan tinggal disana.

Kenapa harus Singapore? Ya bagi saya, Singapore adalah tempat yang semua fasilitas ada, dan nyaman. Selain itu konon katanya kota yang termasuk dengan biaya hidup termahal di dunia ini tidak ku rasakan seperti itu, saya pikir cukup relatlif murah, bahkan harga cukup fair daripada di banding dengan Indonesia. Misalkan harga dalam mall maupun di luar tidak jauh berbeda, berbeda jika di Indonesia di mall harga bisa 5 kali lipat makanan di luar mall. Selain itu transportasi murah dan mudah. Satu kartu bisa di gunakan untuk semua transportasi. Dah pokoknya, kalau tinggal disana betah dah.

Walaupun hanya tinggal 4 hari disana, sudah betah untuk tinggal selamanya jika ada kesempatan dan atas ijin Allah SWT :D Beberapa hal yang ku suka adalah mulai dari subuh yang jam 06, yang bagiku jam segitu tidak seperti di Indonesia, subuh dalam keadaan masih gelap gulita, jarang yang mau keluar di jam jam tersebut, saya lihat di luar memang masih sepi lalu lalang, tapi tukang sampah sudah mengambil sampah hotel yang di letakkan di tong sampah depan hotel. Begitu juga dhuhur, saat itu baru tiba di Changi Air Port pada hari Jumat, dan pesimis dapat sholat jumat, karena jam 11 baru keluar dari Bandara dan menuju hotel di Geylang, dan ini hal pertama saya di Singapore, buta arah dan pengalaman. Baiklah, layaknya seorang backpacker, meluncur dari Bandara menuju ke hotel pun sempat tersesat di Paya Lebar Station, keluar menuju jalan raya ternyata bukan solusi, karena semakin tersesat :D alhasil jalan kaki lah dari Paya Lebar menuju Geylang. Ya lumayan sih, kira-kira 3-5 kilometer. Pada ketersesatan itu ada hikmah di balik itu kok, saya menemukan masjid wak tanjong. Ahaaaaa… ternyata ada sholat jumat disana, saya lihat di jam tangan yang sudah saya sesuaikan Jam wilayah Singapore sudauh menunjukkan angka 12an. Saat sholat jumat pun saya seperti di ingatkan oleh Allah SWT, di ingatkan bahwa masih jauh lebih sedikit sedekah yang pernah ku lakukan. Di sana beberapa orang dengan mudah mengeluarkan uang untuk sedekah. Pada umumnya di Indonesia di sekitarku, sedekah dengan lembar paling kecil, parahnya pakai koin. Saya melihat di sekeliling shof, hampir semua mengambil kertas bernominal $5-10 bahkan lebih, tak terlihat ada yang sedekah dengan nominal koin misal $1. Saya lihat di pengumuman takmir masjid tentang infaq dan sodakoh terkumpul pun membuat terkejut :D, ya mungkin kalau di kurs SGD memang mungkin sedikit, tapi kalau di rupiah kan bisa hampir bernilai ratusan juta lebih. Pelajaran tersebut sangat menggugah hati saya. Oh ya kembali lagi pada sholat jumat, sholat jumat belum di mulai sudah penuh tempatnya, dan di mulai khotbah dan sholat sekitar jam 13. Maaf bukan membanding-bandingkan secara generalisasi, kebiasaan saya yang datang sholat jumat di menit akhir ini pun harus ku ubah, ternyata kebiasaan negara yang mayoritas Islam di Indonesia banyak perbedaan kebiasaan dengan minoritas Islam disini. Saya menemukan beberapa hidayah kecil dalam kegiatan sehari-hari di sana. Perbedaan waktu sholat ini yang ku rasa nyaman pas dengan kondisi tidak mengganggu sama sekali.

Keunikan lain yang kudapatkan dan dapat ku pelajari adalah tidak ku menemukan orang menguap karena mengantuk, jarang ku temukan wanita / laki-laki berpostur gemuk, jarang orang naik motor, jarang tukang parkir juga tentunya, dan tak pernah melihat kecelakaan kendaraan dan yang paling penting jarang menemukan sampah :D. Kalau hal buruk disana ketemu gak dek rizky? Ya tentunya setiap kebaikan pasti ada lawan nya, yakni keburukan. Kok nggak di sebutkan sih keburukannya? Ya, ada yang saya tidak suka di Singapore ini, beberapa ku temukan pasangan cowok cewek mojok di train, tapi mojoknya bukan hal tak baik, sebatas ngobrol dengan jarak dekat antar wajah, banyak ku temukan rok mini dan baju adik. hahaaha…. Dan yang terakhir saat di train jarang yang ngobrol, mereka pada sibuk dengan gadget masing-masing.

Geylang yang katanya kategori red district, red district disini adalah semacam sebuah terlarang, karena di sekitar kawasan tempat prostitusi, malah saya tak menemukan yang aneh-aneh, entah karena tersembunyi atau saya yang kurang pikniknya :D. Padahal kalau saya pulang dari keliling piknik seharian pasti sampai malam, bahkan pernah sampai jam 12 malam waktu setempat, pulang jalan kaki dari Kallang station menyusuri geylang lor 1 sampai lor tempatku menginap.

Masih banyak cerita yang ingin saya bagi, namun apalah daya aku yang jarang bisa menulis panjang dan runtut, mungkin lain kali saya share itinerary ke singapore nya dengan budget limited :D